
Kentang Mustofa dikenal luas sebagai camilan renyah bercita rasa gurih pedas yang kerap menjadi pelengkap berbagai hidangan Nusantara. Namun, di balik kesederhanaannya, camilan ini menyimpan kisah menarik yang berakar langsung dari lingkungan Istana Kepresidenan pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
Sebutan “Mustofa” pada camilan ini bukan berasal dari istilah religius maupun pengaruh kuliner asing. Nama tersebut merujuk pada sosok Opo Mustofa, juru masak yang bertugas di dapur Istana Cipanas. Lewat tangan kreatifnya, bahan sederhana berupa kentang diolah menjadi sajian yang tak hanya lezat, tetapi juga meninggalkan jejak sejarah dalam dunia kuliner Indonesia.
Berawal dari irisan kentang tipis yang digoreng hingga kering, lalu dibalut bumbu balado, Opo Mustofa berhasil menciptakan camilan dengan tekstur renyah dan rasa yang khas. Sajian ini awalnya hadir sebagai hasil pemanfaatan bahan makanan yang tersisa, namun justru berkembang menjadi hidangan istimewa yang disukai oleh Presiden pertama Republik Indonesia.
Kreativitas Dapur Istana yang Menjadi Legenda
Cerita tentang Kentang Mustofa memperlihatkan bahwa kreativitas dalam mengolah bahan sederhana dapat melahirkan warisan kuliner bernilai tinggi.
Keahlian Opo Mustofa dalam menyulap makanan sederhana menjadi sajian bercita rasa kuat menjadikan hidangan ini tak sekadar camilan, melainkan bagian dari sejarah kuliner nasional.
Nama Mustofa pun diabadikan langsung dalam hidangan tersebut. Mengutip keterangan dari unggahan akun Instagram @kemendikdasmen, disebutkan bahwa penamaan Kentang Mustofa diambil dari nama juru masak istana, Opo Mustofa. Penyebutan ini bahkan dipercaya berasal dari kebiasaan Presiden Soekarno sendiri.
Presiden Soekarno dikenal sangat menyukai hidangan ini. Dalam beberapa kesempatan, ketika Kentang Mustofa tidak tersaji di meja makan, ia dikisahkan menanyakan keberadaan camilan favoritnya dengan sebutan tersebut. Sejak saat itu, nama Kentang Mustofa semakin dikenal dan digunakan hingga sekarang.
Dari lingkungan Istana Cipanas, Kentang Mustofa kemudian menyebar luas dan menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Kini, camilan ini mudah ditemukan di berbagai rumah makan, restoran, hingga dapur rumah tangga di seluruh Indonesia. Popularitasnya yang bertahan lintas generasi membuktikan bahwa cita rasa sederhana yang diolah dengan kreativitas mampu bertahan melampaui waktu dan tempat.



